Selasa, 04 Oktober 2016
Kisah
Nabi Muhammad dari Lahir hingga Wafat Kisah Nabi Muhammad Saw dari Lahir hingga
Wafat | Inilah kisah nabi muhammad saw yang sangat menggemparkan dunia dan
dianggap sebagai tokoh yang diluar dugaan akal manusia, karena telah berhasil
membawa umat manusia dari kegelapan menuju kepada yang terang. Nabi Muhammad
Saw adalah keturunan Bani Hasyim, anak ABdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim
bin Abdi anaf bin Qusoy bin Kilab bin Murroh bin Kaab bin Luay bin Ghalib bin
Fihr bin Malik bin Nadhr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin
Mudhor bin Nizar bin Maaad bin Adnan. Adnan adalah leluhur utama bangsa Arab
keturunan nabi Ismail as. Nabi Muhammad berasal dari suku Quraisy. Beliau
dilahirkan di Makkah 12 Rabiul Awal pada tahun gajah (53 SH) bertepatan dengan
tanggal 20 April 571 M.Kisah Nabi Muhammad Saw | Ayahnya adalah
pedagang yang menjajakan dagangannya dari makkah ke Syam. Beliau adalah
keturunan dari Bani Hasyim yang sejak lama mendapat kepercayaan untuk memegang
kunci Kabah yang dimuliakan bangsa Arab sejak zaman nabi Ibrahim. Abdul
Muthallib adalah ayah Abdullah yang sangat mencintai lebih dari saudara-saudaranya
yang lain. Dalam perjalanan pulang menuju negeri Makkah Abdullah meninggal. Dan
akhirnya beliau dikuburkan di Madinah.Kisah Nabi Muhammad Saw | Sejak dilahirkan
nabi Muhammad telah menjadi Yatim. Aminah ibunya, melahirkan Nabi Muhammad
tanpa kehadiran suami yang dicintainya, suaminya meninggal pada saat nabi
Muhammad dua bulan berada dalam kandungan. Sebagaimana tradisi di Hijaz,
selepas kelahiranya, ibunya menyerahkan susuannya kepada Halimatus Sadiyah dari
Bani Saadah.Kisah Nabi
Muhammad dari Lahir hingga Wafat Kisah Nabi Muhammad Saw | Sejak kecil
tanda-tanda kenabian Muhammad Saw telah ditampakkkan Allah. PAda masa kecilnya,
anak Halimatus SAdiyah sedang bermain dengan Nabi Muhammad di padang pasir.
Tiba-tiba saja Nabi Muhammad menghilang, dan anaknya melihat bahwa Nabi
Muhammad dibelah dadanya oleh malaikan dan dibersihkan hatinya. Setelah pulang
ke rumah diceritakanlah apa yang terjadi kepada nabi muhammad.Kisah Nabi Muhammad Saw | Sadarlah
Halimatus Sadiyah bahwa ia sedang mengasuh seorang putera yang istimewa. Dan
sadarlah ia, mengapa peliharaan kambingnya selama ini berhasil dengan baik,
memberikan susu dan tubuhnya gemuk-gemuk. Tentulah, karena Allah memberikannya
kenikmatan atas perbuatan baiknya terhadap nabi.Kisah Nabi Muhammad Saw | Kemudian setelah
4 tahun lamanya, nabi Muhammad diserahkan kembali kepada ibunya. Pada usia 6
tahun (48 SH), beliau diajak oleh ibunya berziarah ke kubur ayahnya dan
berziarah ke keluarganya dari Bani Adiy. Dalam perjalanan pulang ketika sampai
di Abwa sebuah dusun yang berdekatan dengan Madinah, ibunya sakit dan tidak
lama kemudian dalam perjalanan itu ibunya meninggal dunia.Kisah Nabi Muhammad Saw | Akhirnya, nabi
Muhammad saw menjadi yatim piatu di usia yang sangat kecil. Oleh karena itu
Abdul Muthallib, kakeknya menjadi pengasuhnya yang setia setelah ditinggalkan
oleh orang tuanya. Dalam masa-masa itu beliau menjadi penggembara kambing milik
kakeknya. Namun rupanya usia Abdul Muthallib semakin tua dan sudah mendekati
ajalnya, Abdul Muthallib wafat pada saat usianya 8 tahun (46 SH), sebelum wafat
beliau menyerahkan nabi Muhammad kepada Abu Thalib untuk diasuhnya sebagai
anaknya sendiri.Kisah Nabi Muhammad Saw | Abu Thalib
menjadi pengasuh setia bagi Nabi Muhammad, diajaknya beliau berdagang ke Syam.
Dilewatinya perjalanan dagang yang telah dilewati ayahnya, dan menikmati
perjalan itu dengan membuktikan cerita-cerita orang yang telah didengarnya.
Ditengah perjalanan ia berjumpa dengan seorang Rahib Buhaira yang bernama
nastur, melihat tanda-tanda kenabian padanya, bahwa akan datang suatu hari
kelak para pedagang dari arah selatan yang akan membawa seorang anak yang akan
menjadi Nabi akhir zaman, lalu ia berkata kepada Abu Thalib:”Sesungguhnya anak
ini akan memiliki urusan besar”.Kisah Nabi Muhammad Saw | Pada masa
kecilnya, nabi juga menggembalakan kambing sebagaimana nabi-nabi sebelumnya,
untuk menempa dirinya melihat alam yang luas membentang, langit yang terbuka
dan alam sekitarnya untuk ia renungkan sejak masa kecilnya.Masa DewasaKisah Nabi Muhammad Saw | Dari waktu ke
waktu akhirnya, Nabi Muhammad tumbuh menjadi pemuda dewasa. Beliau bekerja
kepada Khodijah binta khuwailid seorang saudagar wanita terkaya di Makkah.
Sebgai orang baru yang mendapat kepercayaan. Khodijah mengutus bersama beliau
Maysarah untuk menyertainya dalam perjalanan dagang itu. Beliau melewati
perjalanan dagang yang kedua kalinya menuju Syam.Kisah Nabi Muhammad Saw | Dan apabila
beliau telah selesaikan tugasnya, dagangan beliau laku dengan keuntungan besar.
Bahkan Maysarah menceritakan hal-ihwalnya dalam perjalanan dagang bersamanya.
Ia menceritakan bahwa apabila ia berangkat di siang hari maka dilihatnya awan
mengiringi perjalanan mereka dan memberi keteduhan kepada mereka.Lama kelamaan, salutlah Khodijah dengan
kejujuran dan budi pekerti Nabi Muhammad yang saat itu berumur 25 tahun. Maka
dinyatakanlah oleh Khadijah keinginannya untuk meminta Nabi Muhammad menjadi
suami baginya. Sedangkan khodjah saat itu berumur 40 tahun. Saat keinginan
Khodijah disampaikan kepadanya, beliau mengatakan tidak memiliki apa-apa untuk
perkawinan. Maysarah mengatakan bahwa Khodijah memintanya untuk menjadi
suaminya. Maka akhirnya menikahlah beliau dengan Khodijah dengan selisih umur
yang cukup jauh (28 SH/ 595 M).Perkawinan beliau dengan Khodijah membuahkan
anak-anak: Qosim, Ruqayyah, ummi Kultsum dan Fatimah, yang kesemuanya wafat
kecuali hanya satu saja yang hidup, yakni Fatimah.Kisah Nabi Muhammad Saw | Pada usia Nabi
35 tahun terjadilah kesepakatan bangsa Quraisy untuk membangun Kabah. PAra bangsawan
Quraisy mulai mencari pengaruh dan berebut simpati dari masyarakat untuk
menjadi orang pertama yang meletakkan pembangunan itu. Tarik-menarik
kepentingan itu telah membuahkan perselisihan antar suku yang akan memicu
peperangan antar suku-suku Arab yang menghormati kabah itu. Dan disepakatilah
oleh suku-suku itu untuk membuat perjanjian bersama, menyepakati yang akan
meletakkan batu pembangunan pertama kabah itu. mereka sepakat untuk menunjuk
orang yang paling pertama kali masuk ke mesjid adalah orang yang berhak pertama
kali meletakkan batu pertama pembangunan Ka’bah itu.Bila tiba saatnya, ternyata Nabi Muhammad
adalah orang yang pertama masuk ke dalam masjid itu. Sehingga secara jujur dan
adil diakui beliaulah orang yang berhak untuk memimpin pembangunan itu.Kisah Nabi Muhammad Saw | Bila tiba
saatnya, beliau memanggil seluruh kepala suku untuk menyaksikan pembangunan
ini. Diletakkannya Surban diatas tanah dan ditaruhnya Hajar Aswad ditengahnya,
masing-masing kepala suku untuk memegang ujung surban itu untuk dibawa ke
kabah. Lalu Nabi Muhammad meletakkan Hajar Aswad ditempatnya. Dengan demikian
pupuslah permusuhan antar suku dengan kebijaksanaan Nabi Muhammad yang sangat
adil itu. Dan menjadi terkenal di tanah Hijaz dan mendapat gelar al-AMien karena
kejujuran dan kepandaiannya memengang amanh.Masa kenabianSetelah kejadian itu, bertahun-tahun
berikutnya, Nabi Muhammad sering melakukan tahannuts (menyendiri untuk
mendekatkan diri kepada Allah) di sebuah gua yang bernama Gua Hira. Gua
tersebut sangat sulit didaki sehingga jarang ada orang yang mendakinya.Selama bertahun-tahun beliau bertahannuts
di gua itu. Sampai suatu malam, pada waktu usianya 40tahun. Datanglah Malaikat
memberitahukan kepadanya bahwa Allah telah mengangkatnya menjadi Rasul dan ALlah
mewahyukan kepadanya lima Ayat Alquran yang pertama di Gua Hira itu.“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu
Yang telah menciptakanmu. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah! Dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajarkan manusia dengan
pena, mengajarkan manusia tentang apa yang tidak diketahuinya. (QS. Al-Alaq
1-5).Kisah Nabi Muhammad Saw | Nabi Muhammad
sangat gugup menerima wahyu itu, dan berulang-ulang malaikat Jibril
memerintahkan kepadanya untuk membaca. Sampai akhirnya dieja bacaannya satu
demi satu, hingga sempurna bacaan itu. Kemudian nabi Muhammad pulang ke
rumahnya. Khodijah amat terkejut melihat suaminya menggigil dan badannya basah
oleh peluh keringatnya. Beliau minta Khodijah menyelimutinya. Dan tiba-tiba
Malaikat Jibril kembali datang kepadanya.Diriwayatkan oleh Abi Salmah bin
Abdurrahman bahwa Rasulullah bersabda “Sesungguhnya aku berdiam diri di Gua
Hira. maka ketika habis masa diamku, aku turun lalu aku telusuri lembah. Aku
liha kemuka, kebelakang, ke kanan dan kekiri. Lalu aku lihat ke langit
tiba-tiba aku melihat Jibriel yang amat menakutkan. Maka kau pulang ke
Khadijah. Khadijah memerintahkan mereka untuk menyelimuti aku. Merekapun
menyelimuti aku, Lalu Allah menurunkan:”Wahai orang yang berselimut. Bangunlah
lalu berilah peringatan. Dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah
dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh balasan) yang lebih
banyak” (QS Al-Muddatsir 74:1-6).Kisah Nabi Muhammad Saw | Ketika Waraqah
bin Naufal mendengar tentang kisah nabi, dengan wahyu yang turun padanya,
Khadijah telah memapahnya ia memegang dadanya, ia berkata: “Ini adalah Namus
yang diturunkan Allah pada Musa, semoga aku dapat hidup ketika kaummu
mengusirmu”, ia berkata:”Mengusir mereka?” ia berkata: “Ya tak ada seorang pun
yang semisal dengan apa yang akan datang padamu kecuali ia akan disakiti,
apabila aku tahu apa yang diperbuat oleh kaummu aku akan tolong engkau dengan
sekuat tenaga”. Belum sempat Waraqah menolongnya, ia telah wafat terlebih
dahulu. Sejak saat itu, maka Nabi Muhammad menyeru kepada kaumnya untuk
menyembah Allah dan meninggalkan sesembahan berhala. Beliau mulai dengan
menyeru kepada Khodijah yang langsung beriman kepadanya. Kemudian Ali dari
golongan anak yang paling kecil, kemudian Abu Bakar dari golongan sahabatnya,
kemudian Zaid bin Haritsah dari kalangan budak.Kisah Nabi Muhammad Saw | Dakwah Nabi
ketika itu masih dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan tidak secara
terang-terangan. Sampai kaum muslimin berjumlah 40 orang, yang kemudian disebut
sebagai Assaabiqunal awwaluun, barulah Nabi Muhammad memulai dakwahnya secara
terang-terangan.Maka sampaikanlah olehmu secara
terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu), dan berpalinglah dari
orang-orang yang musyrik” (QS. Al-Hijr 15:94).Dengan tersebarnya Islam, maka naik
pitamlah pembesar-pembesar Quraisy yang merasa tersaingi oleh Nabi Muhammad.
Bahkan paman-pamannya sendiri seperti Abu Jahal dan Abu Lahab adalah
orang-orang yang paling membencinya. Rasulullah mengajak kaumnya untuk beriman
kepada Allah Yang Maha Esa, Yang menciptakan langit dan bumi, yang
mempertukarkan siang dan malam, dan meninggalkan berhala-berhala mereka, dan
tidak menyekutukan Allah dengan apapun. Ketika diturunkan ayat:“Dan berilah peringatan kepada kerabat,
kerabatmu yang dekat dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang
mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman” (QS. As-Syuaraa 26:214-215)Rasulullah kemudian datang ke bukit Shofa,
beliau menyeru:”Kemarilah kalian, hai Quraisy!” orang-orang kemudian berkumpul
dan ia berkata: “Apakah kalian percaya apabila aku katakan kepada kalian bahwa
musuh akan menyerang kalian baik pagi ataupun sore, apakah kalian percaya
kepadaku?”Kisah Nabi Muhammad Saw | Mereka
menjawab:”Ya, kami tidak pernah melihat anda berbohong?”, beliau
melanjutkan:”Maka aku datang kepada kalian menjadi pemberi peringatan akan
datangnya siksa yang amat pedih”. Demi mendengar itu, amat berangnya Abu Lahab
Ia berkata:”Celakalah engkau Muhammad! APakah untuk ini engkau mengumpulkan
kami?”. Kemudian Nabi Muhammad menerima wahyu dari Malaikat Jibril untuk
menyatakan kepadanya:Celakalah kedua tangan Abu Lahab dan
sesungguhnya dia akan celaka. Tidak akan berguna hartanya dan apa yang dia
perolehnya. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak. Dan (begitupula
) isterinya pembawa kayu bakar. Yang dilehernya ada tali dari sabut”. (QS.
al-Lahab 111:1-5)Setelah kejadian itu, maka kaum muslimin
semakin dipinggirkan, dan selalu dicaci maki, dicemooh bahkan disiksa karena
keyakinannya. Nabi Muhammad sendiri tidak kurangnya dihina, bahkan dilempari
kotoran binatang.Tahun kesedihan.Kisah Nabi Muhammad Saw | Siksaan demi
siksaan terus ditimpakan kepada kaum muslimin. Sampa suatu saat kaum muslimin
sangat terdesak akibat shahifah diatas kabbah yang mengisolasi Bani Hasyim dan
kaum muslimin. Sehingga memaksa kaum muslimin untuk berhijrah pertama kalinya
ke Abissynia. Kekejaman kaum kafir Quraisy tidak berhenti sampai disitu, mereka
terus melakukan penyiksaan terhadap kaum muslimin sampai mereka mau murtad dari
imannya. Namun tetap saja mereka bertahan dan sabar menghadapi ujian-ujian itu.
Walaupun berat ujian yang dirasakan mereka, namun tiada surut jua keyakinan
yang telah terpatri, Allah menyelamatkan mereka dari penyembahan berhala dan
tuhan-tuhan mereka yang tidak memberi manfaat dan mudharat sedikitpun. Mereka
beriman kepada Tuhan nabi Muhammad dan Tuhan bapak-bapaknya Ismail an Ibrahim
As.Abu Thaliblah orang yang terus membela
nabi Muhammad dari kecaman-kecaman dan ancaman orang Quraisy selama berdakwah
di Makkah. Dan istrinya, Khodijah, dialah saudagar kaya yang terus membela
keberadaan kaum yang beriman di Makkah.Kisah Nabi Muhammad Saw | Dengan segala
kemampuannya, Khodijah terus memberikan pertolongan kepada Bani Hasyim dan kaum
muslimin yang diisolasi oleh kaum Quraisy. Kaum Quraisy dilarang berdagang
dnegan itu benar-benar menyiksa kaum muslimin. Khadijah, tampil menjadi orang
utama dalam membela mereka. Namun sekuat apapun pertolongan Khadijah terhadap
mereka, ia tidak dapat menolak takdir, ajal pun semakin dekat kepadanya.
Sehingga Khodijah wafat tahun 10 kenabian (3 SH/ 619 M). Betapa sedihnya, hati
rasulullah atas wafatnya Khodijah, dialah istri yang sangat setia kepadanya di
dalam keadaan duka kecuali ia berada di sampingnya. Tiada pula keluh kesahnya,
ketika beliau dicaci-maki, dilempari kotoran, dihina orang-orang, kecuali ia
datang kepadanya untuk menghibur Rasulullah. Oleh sebab itu, sebagai manusia
biasa, kesedihan itu terasa pula menyentuh kalbunya.Kisah Nabi Muhammad Saw | Sementara itu,
berbagai upaya dilakukan oleh Quraisy untuk melunakkan hati nabi Muhammad. Abu
Thalib diperintahkan pemuka-pemuka Quraisy untuk menyampaikan pesan kepada nabi
untuk meninggalkan agamanya dan berhenti mengajak orang-orang untuk beriman
kepada Allah. Mereka berjanji: “Apabila ia menginginkan harta, maka akan kami
berikan harta yang banyak kepadanya, sehingga ia meninggalkan agamanya, apabila
ia menginginkan jabata, maka akan kami berikan kepadanya jabatan yang tinggi di
antara kaum Quraisy asal ia berhenti berdakwah dan jika ia menginginkan seorang
wanita maka akan kami berikan padanya wanita tercantik dari kaum Quraisy untuk
dijadikan istrinya demikian bunyi pesan mereka.Nabi Muhammad dengan tegas menyatakan
kepada pamannya saat itu: “Demi Allah wahai pamanku! Seandainya mereka
meletakkan matahari ditangan kananku dan bulan ditangan kiriku agar aku
meninggalkan perkara ini maka sama sekali tidak akan lakukan! Sampai aku hancur
karenanya!”.Kisah Nabi Muhammad Saw | Abu Thalib bin
Abdul Muthalib adalah paman nabi yang amat dicintainya. Abu Thalib selalu
melindungi nabi setelah kakeknya wafat. Ketika ajal menjemputnya, pada tahun
yang sama dengan wafatnya Khodijah, rasa kesedihan nabi terbaca dari raut
wajahnya. Ketika Abu Thalib dalam keadaan sekarat, Rasulullah menemuinya. Dan
di sebelahnya (Abu Thalib) ada Abu Jahal dan Abdullah bin Abu Umayyah. Maka
kata Nabi:”Pamanda, ucapkanlah laa ilaaha illallaah karena dengan kalimat itu
kelak aku dapat memintakan keringanan bagi paman di sisi Allah. Abu Jahal dan
Abdullah berkata: “Abu Thalib. APakah engkau sudah tidak menyukai agama Abdul
Muthallib?” Kedua orang itu terus berbicara kepada ABu Thalib sehingga
masing-masing mengatakan bahwa ia tetap memintakan ampunan bagimu selama aku
tidak dilarang berbuat demikian, maka turunlah ayat:“Tidak sepatutnya bagi nabi dan orang yang
beriman memintakan ampun kepada Allah bagi yang musyrik” (QS. at-Taubah 9:113).Bertambahlah kesedihan nabi dengan
meninggalnya dua orang yang sangat disayanginya, sehingga tahun ini disebut
dengan aamul huzni atau tahun kesedihan.Isra MikrajSetelah tahun-tahun itu nabi Muhammad
mengalami kesedihan, sebagaimana seorang manusia, kesedihan itu tampak pada
diri Rasulullah.Kemudian datanglah peristiwa yang
menghibur Rasulullah, pada tahun 12 kenabian Allah mengangkatnya ke langit
tujuh, sebagaimana diabadikan al-Quran dalam surat al-Isra ayat 1-2:“Maha suci Allah yang telah memperjalankan
hambaNya Pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha untuk
memperlihatkan tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Maha mendengar
dan Maha Melihat. Dan telah kami berikan kepada Musa sebuah kitab dan kami
jadikan sebagai petunjuk bagi Bani Israil”.Ayat tersebut menunjukkan pertalian nabi
dengan nabi-nabi sebelumnya yang diutus Allah ke muka bumi, sebagaimana telah
tertulis dalam Taurat dan injil bahwa akan ada seorang nabi akhir zaman yang
menjadi penutup para nabi.Kisah Nabi Muhammad Saw | Pada saat
itulah, kesedihan beliau pupus dengan peristiwa yang membesarkan hati beliau.
Tetapi tidak berarti cobaan yang dihadapi nabi telah selesai. Bahkan setelah
mendengar kejadian itu kaum kafir Quraisy semakin mengejek dan menghina nabi
dengan menyatakan bahwa ia telah menjadi pembohong dan pendongeng. Bahkan ujian
keimanan itu telah menimpa pula pada sebagian sahabat yang ragu dengan
perjalanan israk dan mikraj nabi dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha kemudian
naik ke Sidratul Muntaha.Saat itu Abu Jahal yang masuk ke Kabah
bertanya kepada Nabi untuk mengejeknya:”Apakah malam tadi kabar baru
kepadamu?”. Maka rasulullah menganggkat kepalanya dan menjawabnya:”Ya, aku
telah diperjalankan malam ini dari Baitul Maqdis ke Syam”, maka berkatalah Abu
Jahal mengingkarinya:”Bagaimana mungkin, sedangkan pagi ini engkau berada
disini”, nabi menjawab dengan pasti:”Ya”.Kisah Nabi Muhammad Saw | Maka
berteriaklah Abu Jahal kepada kaum Quraisy layaknya orang gila, sedangkan nabi
belum menyampaikan berita tersebut kepada para sahabatnya. Maka berkumpullah
orang-orang di Kabah dan dihasutnya semua manusia untuk mendustai nabi. Maka
bertanyalah salah seorang dari kaum muslimin bertanya kepada Rasulullah:
“Benarkah, engkau telah diperjalankan malam tadi, Ya Rasulullah?”, nabi
menjawab:”Ya , dan aku sholat bersama saudara-saudaraku para nabi disana”. Maka
berkembanglah pemberitaan yang bercampur dengan hasutan Abu Jahal. Sehingga
adapula beberapa kaum muslimin yang terbujuk hasutan mereka.Hanya Abu Bakar yang secara tulus dan
berani menyatakan “Kenapa kalian jadi putus asa? … sesungguhnya aku percaya
kepadanya lebih dari itu… aku percaya kepadanya dalam kebaikan langit yang
datang padanya siang maupun malam” kemudian ia berkata dengan tegas: Kalau itu
yang dikatakannya, maka ia benar” Keberanian dan ketulusan Abu Bakar inilah
yang memperkuat sahabat sehingga tidak berarti lagi ejekan dan hinaan kaum
kafir Quraisy terhadap mereka.Dan kaum muslimin semakin kuat imannya,
dan semakin lama semakin berkembang. Ada saja satu dua orang yang masuk Islam,
sehingga menambah berang kaum Quraisy. Siksaan demi siksaan terus dialami oleh
orang-orang yang beriman.Masa HijrahKisah Nabi Muhammad Saw | Akhirnya, kabar
Islam semakin luas terdengar sampai di Madinah. Suatu saat datanglah 10 orang
Madinah kepada Nabi Muhammad menyatakan diri masuk Islam dan mereka berbaiat
kepadanya untuk setia dan menjalankan ajaran Islam sebaik-baiknya. Terjadilah
janji setia mereka dibawah pohon, mereka dibaiat yang kemudian dikenal dengan
Baiat Aqabah I. Kemudian pada tahun berikutnya datanglah 70 orang Madinah yang
terdiri dari laki-laki dan perempuan menyatakan diri masuk Islam dan berbaiat
kepadanya untuk setia dan menjalankan ajaran Islam dengan baik dan benar, dan
disebutlah peristiwa itu dengan Baiat Aqabah II.Kaum kafir Quraisy pun semakin mengetatkan
penyiksaan terhadap kaum muslimin. Dan pada saat, siksaan itu semakin menjadi,
Allah mengizinkan kepada kaum muslimin untuk berhijrah ke Madinah. Sementara
Rasul masih tetap berada di Makkah.Pada hari sabtu, terjadi pertemuan di
Darun Nadwah, yakni di rumah Qusoi bin Kilab, para kafir Quraisy merencanakan
untuk membunuh nabi dan sepakat untuk merahasiakan rencana tersebut. Mereka
memerintahkan setiap suku untuk memukul dengan pedangnya, sehingga suku Abdi
Manaf tidak akan dapat meminta tanggung jawab mereka, karena seluruh suku telah
membunuhnya. Dan ditentukanlah saat persekongkolan kafir Quraisy untuk membunuh
Nabi Muhammad.Setelah mendapat wahyu dari Allah, Nabi
kemudian memanggil Abu Bakar untuk segera berangkat ke Madinah sementara Ali
Bin abi Thalib yang masih muda diperintahkannya untuk tidur di kasurnya. Di
saat malam keberangkatannya ke Madinah, semua pemuda-pemuda yang tangguh dan
kuat telah mengepung rumahnya untuk membunuh Nabi Muhammad.Rasulullah kemudian keluar dari rumahnya
dengan menaburkan pasir dan membaca ayat-ayat al-QUran.“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding
dan dari belakang mereka dinding (pula), dan kami tutup (mata) mereka sehingga
mereka tidak melihat sama sekali” (QS. Yasin 36:9).Ketika mereka semua bangun, mereka
bertanya-tanya, mana dia? Mana dia? Kemudian mereka masuk ke dalam rumah.
Didatangi kamar tidur beliau. Mereka menyangka bahwa nabi Muhammad sedang
tidur. Ketika disingkapnya selimut itu, ternyata Ali bin Abi Thalib yang tidur
di kasur itu. Sadarlah mereka bahwa Nabi Muhammad telah pergi hijrah.Nabi Muhammad bersama Abu bakar berangkat
ke Madinah, dan beliau berhenti di Gua Tsur dan menaiki bukit itu. Kaum kafir
Quraisy dijanjikan hadiah bagi siapa yang menemukan Nabi Muhammad Saw dan
sahabatnya, mereka segera menyusuri jejak-jejak yang dilewati Nabi bersama Abu
bakar. Tidak kurang para ahli pesiar yang sering berjalan di padang sahara iku
serta bersama mereka.Namun sayang mereka tidak menemukan Nabi
Muhammad Juga. Jejak kaki itu terhenti di sebuah gua Tsur, dimana Nabi Muhammad
dan Abu bakar berada didalamnya. Namun mereka tidak yakin beliau ada ditempat
itu, karena gua itu telah ditutupi oleh sarang laba-laba dan sarang burung
merpati yang menutupi pintu gua itu. Mana mungkin ada ditempat itu? Apabila ia
ada didalamnya tentulah sarang laba-laba itu akan rusak dan sarang burung itu
akan rusak. Dengan berkat rahmat Allah, maka sampailah Nabi Muhammad Saw di
madinah dengan selamat. Kaum Muhajirin dan Anshor menyambut mereka berdua
dengan sangat gembira, berduyun-duyun penduduk Madinah melihat ke arash Tsniyatil
Wada’. Dan dengan rebana dari kulit binatang mereka membacakan syair:Telah datang kepada kami bulan purnamaDari arah Tsaniyatil WadaWajiblah kita bersyukurSelama Tuhan mengurus Rasul kepada kita.Sesampainya Nabi Muhammad saw di Madinah
beliau mendirikan mesjid yang pertama yaitu Masjid Quba 5 km barat daya dari
Masjid Nabawi. Dan beliau mempersaudarakan antara kaum Anshor yang berasal dari
kaum muslimin Madinah dan Muhajirin yang berasal dari kaum muslimin Makkah.
Selain itu beliau juga membuat piagam perjanjian antar suku-suku di Madinah
untuk saling menghargai, saling menghormati, saling memiliki rasa senasib dan
sepenanggungan dan memelihara perdamaian. Piagam tersebut dikenal dengan nama
“Konstitusi Madinah”. Sejak saat itu berdirilah pemerintahan Islam yang pertama
untuk memberikan perdamaian kepada seluruh manusia.Mempersaudarakan Muhajirin dan AnshorPada suatu hari terjadi perkelahian antara
seorang muda Muhajirin, dengan seorang pemuda Anshor budak orang Muhajirin itu
bersorak-sorak. “Hai Muhajirin” Budak Anshor berteriak pula “Hai Anshor”.Keributan ini hampir saja menjadi besar,
kedua belah pihak telah bertentangan. Syukurlah Rasulullah segera mendapat
kabar tentang kejadian ini ketika ia sedang duduk didalam rumahnya.Beliau tegak dan pergi ke tengah-tengah
orang yang bertengkar itu, dengan suara yang keras beliau berkata “Apakah kamu
semua hendak kembali ke zaman jahiliyah?”Mereka menerangkan asal-muasal perkelahian
itu sampai kedua belah pihak menyorakkan “Hai Muhajirin” dan “Hai anshor”.Mendengar itu Rasulullah berkata : “Tidak
boleh lagi perkataan yang demikian itu diulang-ulang kembali karena perkataan
itu sudah basi” Kedua pemuda yang bertengkar itu didamaikan oleh Rasulullah,
sehingga keadaan tenang dan aman kembali.Kabar kejadian ini terdengar oleh Abdullah
bin Ubai.“Ah inilah suatu peluang yang baik untuk
menghasut” pikirnya. Kemudian ia berkata kepada orang-orang yang dapat
dipengaruhinya dari kalangan penduduk Madinah bahwa orang-orang Muhajirin telah
memukuli anak-anak kita. Mereka leluasa berbuat semau-maunya di dalam negeri
kita, padahal mereka menumpang. Tak ubahnya dengan kaum muhajirin ini seperti
pepatah orang tua “Sammin kalbaka yakulka (Gemukkanlah anjingmu supaya engkau
dimakannya). Bodoh benar tuan-tuan ini, tuan-tuan serahkan diri kepada mereka,
tuan-tuan berikan negeri tuan untuk mereka diami, tuan-tuan berikan mereka
kartu tuan-tuan, bukankah lebih baik kemurahan ini dihentikan saja, supaya
mereka boleh pindah dari negeri ini? Begitu pemurah tuan-tuan sehingga
tuan-tuan lebih suka mati lantaran membela Muhammad dan Muhajirin itu,
anak-anak tuan menjadi yatim, tuan-tuan menjadi punah, sedang mereka bertambah
banyak dan berkembang biak disini.Seorang bernama zaid bin arqam demi
mendengar perkataan itu segera menyampaikan kepada Rasulullah. Didalam majlis
itu, adapula Umar. Bukan main marah Umar mendengar perkataan itu, lalu ia
berkata kepada Rasulullah: “Biar hamba potong lehernya ya Rasulullah”, “Jangan
Umar”. Kata Rasulullah “Bagaimana kelak kata orang? Akan orang katakan Muhammad
itu membunuh sahabatnya”.Setelah kejadian itu, Rasulullah
mempersaudarakan antara Muhajirin dan Anshor di rumah Anas bin Malik. Sebanyak
90 orang berkumpul dirumah itu. Setengahnya orang-orang Muhajirin dan
setengahnya orang-orang Anshor. Rasulullah kemudian mempersaudarakan mereka,
orang-orang Anshor mewariskan sebagian hartanya kepada orang-orang Muhajirin.
Dan turunlah Ayat:Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi
orang-orang mukmin dari nabi mereka sendiri (maksudnya lebih mencintai nabi
dari dirinya dalam segala urusan) dan isterinya adalah ibu-ibu mereka. Dan
orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain berhak (waris mewaris)
didalam kitab Allah daripada orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu berbuat
baik (maksudnya berwasiat yang tidak lebih dari sepertiga harta) kepada
saudara-saudara mu (seagama). Adalah yang demikian itu telah tertulis didalam
kitab (Allah) . (QS. Al-Ahzab 6).Kemudian dihapuskanlah warisan kepada
rahim tanpa aqad ukhuwah (persaudaraan muslim). Konon Muhajirin ketika datang
ke madinah mewariskan kepada Muhajirin dan Anshor tanpa keluarganya, untuk
mempersaudarakan yang dipimpin oleh nabi antar mereka. Maka Abu Bakar
disaudarakan dengan Kharijah Bin Zaid, Umar bin Khattab disaudarakan dengan
fulan, Usman bin Affan dengan laki-laki dari Bani Zuraiq bin Saad az-Zarqie,
Zubair bin Awwam dengan Kaab bin Malik.Dan Rasulullah telah mempersaudarakan
muhajirin dan Anshor untuk yang kedua kalinya kemudian ia mengambil Ali sebagai
saudaranya dan yang pertama tetap, dan kaum muhajirin saat itu membutuhkan
sekali persaudaraan islam, persaudaraan rumah, pendekatan nasab selain
Muhajirin dan Anshor, kalau mereka dipersaudarakan dengan Muhajirin, maka orang
yang paling berhak dengan persaudaraan orang yang paling dicintai Rasulullah
dan kawannya dalam hijrah, Abu Bakar adalah orang yang paling utama, “dan ia
berkata: “Kalau aku menjadikan atau memilih salah seorang penduduk bumi menjadi
teman maka aku jadikan Abu Bakar sebagai kawan, bahkan persaudaraan Islam lebih
utama”.Maka mereka pun menjadi saudara yang
merasa senasib sepenanggungan, mereka adalah saudara di waktu suka maupun duka.
Islam membuka persaudaraan seluasnya kepada kaum yang dahulu tidak saling
mengenal. Dengan hal ini mereka seperti anak panah yang bersatu dalam satu
busur. Mereka tidak melihat lagi perbedaan antara Anshor dan Muhajirin. Yang
ada pada mereka adalah Islam untuk disebarkan kepada seluruh manusia, untuk
membebaskan mereka dari tirani kedzaliman dan membawa mereka kepada peradaban
dunia yang bermoral.Perang BadarKeberadaan kaum muslimin di Madinah telah
mengundang kemarahan besar bagi kaum kafir Quraisy di Makkah. Mereka berang
dengan kegagalan kaum Quraisy membunuh nabi sebelum keberangkatannya ke
madinah, dan kegagalan mereka mencari jejak nabi di padang pasir antara makkah
dan Madinah yang berjarak kurang lebih 500 kilometer. Kedengkian mereka
terhadap nabi terus berkobar laksana api tak padam sebelum petunjuk Allah
menyirami mereka. Mereka berketetapan hati untuk membunuh nabi dan pengikutnya
agar Islam tidak berkembang di Madinah.Setelah Rasulullah Hijrah ke Madinah,
beliau mulai menyusun strategi, Rasulullah emerintahkan kepada kaum muslimin
untuk menghambat kaum Quraisy yang pulang dari berniaga dari Syam. Beliau
menyerahkan pimpinan kepada Hamzah sebagai panglima.Mereka mengumumkan perang terhadap kaum
muslimin. Di bawah pimpinan Abu jahal pasukan kafir Quraisy yang berjumlah 1000
orang berangkat menuju Madinah. Sementara kaum Muslimin yang berjumlah 313
orang dipimpin Hamzah bin Abdul Muthalib menyambut kedatangan mereka diluar
kota Madinah yang disebut dengan daerah Badar.Maka terjadilah perang pada hari jumat
tanggal 17 Ramadhan tahun ke 2 H. Allah mewahyukan kepada nabi bahwa Allah akan
menurunkan bantuannya bagi nabi QS. Al-Anfal 9:”Bahwa aku akan menambahkan
jumlah kalian dengan seribu malaikat yang akan membantu kalian: Dalam ayat lain
QS. Ali Imran 124: “Ketika engkau berkata kepada orang-orang yang beriman bahwa
Allah akan mencukupkan kalian dengan tiga ribu malaikat yang turun (dalam
peperangan itu), apabila kalian sabar dan bertakwa, mereka akan datang
tiba-tiba menambah (jumlah) kalian dengan 5000 malaikat. Pihak Quraisy yang
dipimpin oleh Abu Jahal, sedang pihak kaum muslimin dipimpin oleh Hamzah bin
Abdul Muthallib. Pasukan ini tidak seimbang tetapi keberanian dan ketangkasan
sama-sama tidak kalah, kedua pihak bersama-sama orang Quraisy.Baru saja pertempuran dimulai, dari pihak
Quraisy telah tampil al-Aswad bin Machzumi, seorang pahlawan gagah perkasa,
tegar dan sukar tandingnya. Hamzah tampil pula ke muka. Aswad mengeluarkan
tombaknya seraya berkata:”Saya berjanji atas nama Allah akan kuminum darah
mereka dan akan kuhancurkan kekuatan mereka atau aku sendiri mati”.Singa Allah , tampil ke muka, terjadilah
peperangan sengit dengan tombak, tak ada suara yang keluar dari keduanya.
Sekali melambung ke atas, sekali ke bawah tetapi tak lama kemudian gemuruhlah
bunyi takbir riuh rendah, dan bunyi pekik alamat aswadJatuh, dan singa Allah beroleh kemenangan,
seakan-akan dia berkata: “Sumpahnya yang terakhirlah yang engkau tebus hai
Aswad, engkau minta mati”. Pedang Hamzah menembus dada sampai ke punggungnya.Setelah itu tampil pula Utbah bin Rabiah
dengan saudaranya Syaibah dan anknya Walid, ketiganya mengendaki lawan dari
pihak muslim, mulanya hendak ditantang oleh tiga orang Anshor tetapi mereka
tidak mau menerima dan dengan somong mereka berkata:“Kamu bukan lawan kai, panggil saja
pahlawan-pahlawan yang semedan dengan kami, yang setimpal dan seketurunan
dengan kami”.Maka Nabi pun memilih tiga orang perkasa
yaitu Ubaidah bin Al-Harits, Hamzah bin Abdul Muthallib sekali lagi, dan yang
ketiga Ali bin Abi Thalib.Hamzah melayani Utbah, Ali dan Ubaidah
menghadapi yang dua lagi. Tetapi hanya beberapa saat saja ketiga musuh itupun langsung
rebah. Setelah berlangsung perang tanding itu barulah terjadi pertempuran,
orang Quraisy mengalami kekalahan besar. Melihat Hamzah bertanding dua kali itu
sangat mengejutkan hati mereka. Di Badr inilah Abu Jahal binasa. Dan Hamzah
mendapat gelar Asadullah wa Rasulihi (Singa Allah dan RasulNya).Perang Badar adalah perang pertama Islam
yang terjadi antara kaum muslimin dengan kaum kafir Quraisy yang menyerang
Madinah. Perang pertama dalam Islam yang memberikan kemenangan gilang gemilang
kepada kaum muslimin meskipun jumlah mereka sangat kecil. Masa itulah awal mula
terpancang bendera Islam di tanah Arab. Yang tak dapat dijatuhkan lagi. Ketika
itu, Hamzah dan anak saudaranya Ali bin Abi Thalib beroleh kejayaan yang tiada
bandingan.Dalam perang itu banyaklah orang-orang
yang ditawan setelah peperangan usai. Para sahabat pun banyak berselisih
pendapat mengenai tawanan-tawanan itu. Rasulullah sendiri menunggu wahyu Allah
yang akan menjelaskannya tentang masalah tawanan itu. Namun sampai masalah
tersebut semakin sengit diperselisihkan, maka Rasulullah mengambil kebijakan
yang mendukung pendapat Abu Bakar untuk menerima upeti dari tawanan perang
badar, tetapi akhirnya turunlah firman Allah yang menyalahkan kebijakan beliau:“Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai
tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki
harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akherat (untukmu).
Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan
yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kamu ditimpa siksaan besar karena
tebusan yang kamu ambil” (QS. Al-Anfal 8:67-68).Inilah sebuah bukti bahwa dalam sikapnya,
nab i Muhammad saw selalu disetir oleh wahyu. Sehingga insyaflah beliau
terhadap kekeliruannya dan mengganti kebijakannya dengan mewajibkan tawanan
mengajarkan baca-tulis kepada orang-orang yang tidak bisa membaca ataupun
menulis saat itu.Perang Uhud.Kekalahan kafir Quraisy dalam perang Badar
telah menorehkan dendam dalam hati kafir Quraisy. Kemenangan kaum muslimin di
Badar telah membangkitkan dendam di dalam hati kaum Quraisy. Maka pada tahun
berikutnya, Abu Sufyan memprakarsai perang menyerang kaum muslimin di Madinah.
Mereka bentuk satu angkatan perang yang besar dengan kekuatan 3000 orang,
dibawah pimpinan pahlawan-pahlawan mereka yang terkenal seperti Khalid bin
Walid, Ikrimah bin Abi Jahal dan lain-lain. Dan Abu Sufyan dipilih menjadi
panglima pasukan perang.Peperangan Uhud adalah hari pembalasan
kaum Quraisy atas kekalahan mereka dalam perang badar setahun sebelum
perjanjian Hudaibiyah. Di antara mereka Zubair bin Mutham menjanjikan budaknya
Wahsyi, kalau dapat membunuh Hamzah dia akan dimeredekakan, karena paman ubair
yang bernama Thuaiman bin Adi mati dalam perang Badar karena kena tikam pedang
Hamzah. Hindun anak Utbah bin Rabiah dan isteri dari Abu Sufyan yang ayahnya
mati oleh pedang Hamzah ikut juga dalam peperangan dan bersumpah akan mengunyah
jantung Hamzah.Demi mendengar hal itu, Rasulullah
mengumpulkan semua sahabatnya dari Muhajirin dan Anshor. Rasulullah mengadakan
musyawarah dengan mereka apakah musuh akan dihadapi dari dalam kota atau akan
dihadapi di perbatasan Madinah. Adapun sahabat Abu Bakar, Umar, Ali, Usman dan
lainnya, mengeraskan suara supaya disongsong keluar kota, tapi kaum munafikin
yang diketuai Abdullah bin Ubay mengeraskan suaranya supaya bertahan didalam
saja.Dalam urusan perang, karena peperangan
adalah urusan duniawi, Rasulullah memberi kebebasan kepada para sahabatnya
menyatakan pendapat, walaupun pendapat itu berlainan dengan pendapat beliau
sendiri. Maka terjadilah perdebatan. Di satu pihak mengatakan akan menggunakan
strategi ofensif dengan menghadapi musuh yang datang dan pihak lain menggunakan
strategi defensif dengan menghadapi musuh di dalam kota saja. Itulah pendapat
Abdullah bin Ubay dan Rasulullah pun setuju dengan pendapat itu. Tetapi
lantaran pihak yang banyak yaitu pihak Muhajirin dan Anshor yang setuju dengan
strategi ofensif, maka pendapat itulah yang menjadi pututsan dan beliau
menyetujui putusan itu. Maka beliau menggantungkan baju bajanya, menyandangkan
perisainya, menggantungkan pedangnya di atas pinggangnya dan naiklah beliau ke
atas kudanya.Tetapi ketika akan berangkat, setengah
dari sahabat yang tadinya menyetujui menyerang keluar kota tiba-tiba keluar
dari pendiriannya dan menangkis dari dalam kota saja. Ketika itulah Rasulullah
berkata: “Pantang bagi seorang Nabi akan membuka pakaian perang yang telah
dilekatkannya, sebelum tentu kalah menang di antara dia dengan musuhnya”.Akhirnya, kaum munafik yang berjumlah tiga
ratus orang itu menghasut kiri kanan, sehingga kaumnya yang berjumlah tiga
ratus orang itu tidak jadi berperang.Tersebut dalam sejarah, dalam perang Uhud
kaum muslimin beroleh kerugian-kerugian disebabkan oleh kaum munafikin yang
dipimpin oleh Abdullah bin Ubai mundur sebelum bertempur, mereka terdiri dari
300 orang sehingga kaum mujahidin tinggal 700 orang. Tengah pertempuran
berlangsung, para penjaga bukit karena mengharapkan harta rampasan tak pula
menurut perintah Nabi, sehingga nabi sendiri beroleh luka-luka dalam
pertempuran itu.Angkatan perang kafir Quraisy yang
dipimpin oleh Abu Sufyan. Dalam pertempuran itu, tampil ke muka seorang
pahlawan bernama Siba bin Uzza al-Chuzale, ia berteriak minta lawan,
kalau-kalau ada di antara kaum muslimin yang berani. Sebagaimana biasanya
tantangan demikian adalah kegemaran Hamzah, ia tampil ke muka lalu berkata
kepada Siba. “Alangkah beraninya engkau melawan Allah dan Rasulnya”. Tidak
berapa lama pertempuran pun berlangsung, dan tidak lama kemudian Siba pun
gugur.Waktu itulah Wahsyi yang telah dijanjikan
akan dimerdekakan, yang sedari tadi bersembunyi mengintip dari sebuah lobang,
baru saja Hamzah mendekat ke lubang itu, dipukulkanlah Hamzah dengan sebuah
batu dari belakang. Sehingga Hamzah jatuh tersungkur, Wahsyi berlari ke tempat
itu, dan diulangi memukul beberapa kali lagi, sehingga pada waktu itu juga
Hamzah bin Abdul Muthallib menghembuskan nafasnya yang terakhir menemui ajal.Kemudian datanglah Hindun, dibawanya
pisaunya, dibelah dada Hamzah, diambilnya jantungnya, dikunyah-kunyah dengan
amat buasnya. Rupanya jantung itu agak geras digigit, lalu disemburkannnya dan
ia berkata: sekarang terbalaslah dendam ayahku, pamanku dan dendam saudaraku.
Lunaskanlah nadzar yang telah ku buat setahun lamanya”.Jadi jelaslah bahwa tewasnya Hamzah bukan
dalam peperangan menghadapi lawan, tetapi dihantam dengan batu oleh Wahsyi
secara curang dari tempat tersembunyi.Peperangan selesai, dendam Quraisy
terbalas dan kesedihan tinggal pada kaum muslimin. Nabi sendiri luka-luka di
dahi, gigi dan tangannya, dan beliau memeriksa mayat-mayat pahlawan yang tewas,
dan ketika dilihatnya mayat pamannya yang tercinta itu, dan badannya telah
hancur luluh, dadanya sudah robek-robek tak dapatlah Nabi menahan air matanya.Ia menangis dan berkata: “Demi Allah
kalaulah tidak untuk menjaga hati Shofiyyah (saudara perempuan Hamzah) dan
jangan pula menjadi kebiasaan sepeninggalku kelak, akan kubiarkan mayat ini
tinggal disini, supaya kelak ia dikumpulkan dari tempat yang berjauh-jauhan.
Semoga aku tak akan bertemu lagi kesedihan sebesar ini. Tak ada satu kekecewaan
yang lebih besar dari hari ini. Rahmat Allah tetaplah padamu Hamzah! Engkaulah
yang selalu sudi berbuat baik!.Kaum muslimin tak ada yang berkata sepatah
jua pun. Mereka amat sedih atas kematian “singa Allah” dan kekalahan yang
diderita ini.Nabi berdiri di sisi jenazah Hamzah yang
mati syahid dianiaya. Sebagai seorang manusia, sedih juga hati beliau melihat
paman yang dicintainya mati dalam keadaan yang menyedihkan, geram juga melihat
musuhnya telah menganiaya pamannya sedemikian rupa, maka nabi berkata: “Akan
kuaniaya tujuh puluh orang dari mereka sebagai balasan untukmu”. Maka Allah
mengutus orang Jibriel dengan membawa akhir surat An-Nahl kepada nabi, sementara
ia dalam keadaan berdiri:“Dan jika kamu mengadakan pembalasan, maka
balaslah dengan pembalasan yang sama dengan siksaan yang ditimpakan kepadamu.
Akan tetapi jika kamu bersabar sesungguhnya itulah yang lebih baik bagi
orang-orang yang sebar. Bersabarlah hai Muhammad dan tiadalah kesabaranmu itu
melainkan dengan pertolongan Allah dan janganlah kamu bersedih hati terhadap
kekafiran mereka dan janganlah kamu bersempit dada terhadap apa yang mereka
tipu dayakan. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan
orang-orang yang berbuat kebaikan” (QS An-Nahl 16: 126-128)Peperangan Uhud sebagaimana diterangkan
oleh sejarah, memang membawa kesedihan yang memilukan hati kaum muslimin,
pahlawannya yang utama. Hamzah gugur disana, 70 orang sahabat telah syahid di
Uhud. Sekembali dari peperangan itu kelihatan sekali kegembiraan orang-orang
yang munafik yang tidak ikut berperang itu melihat kerugian kaum muslimin.
Kerja mereka tidak luput menghasut kiri kanan, mematahkan hati orang-orang yang
beriman, serta mencari-cari kesalahan kaum muslimin untuk dijadikan bahan
hasutan. Dengan terjadinya peperangan Uhud dan debat sebelumnya, nyatalah bagi
Nabi. Mana pengikutnya yang mempunyai iman yang kuat, mana pula yang masih
mempunyai iman yang lemah dan yang setengah ragu-ragu, serta jelaslah pula bagi
beliau orang-orang yang termasuk golongan munafik dan kekuatan riil militer
beliau yang sesungguhnya.Setelah kekalahan kaum muslimin dalam
perang Uhud, sadarlah kaum muslimin bahwa banyak orang munafik yang menggembosi
perjuangan Nabi dan kaum muslimin. Maka dalam peperangan berikutnya, dihinakan
orang-orang munafik itu sehingga kaum muslimin tak dapat dikalahkan.Perang KhandaqPerang khandaq terjadi pada bulan Syawal 5
H, perang ini terjadi karena tokoh Yahudi dari bani nadir, Salam bin Abi
al-Huqaiq dan Huyay bin Akhtob, Kinanah bin rabi bin Abi al Huqaiq, Haudzah bin
Qois al-Qaily dan Abu Ammar al-Waily dari Bani Wail bersekutu dengan kafir
Quraisy makkah untuk menyerang nabi Muhammad saw. Ketika mereka sampai di makkah,
mereka berkata: “Kami akan bersekutu dengan kalian untuk menyerang kaum
muslimin sampai mereka habis”, mendengar perkataan itu maka orang Quraisy
berkata:”Wahai orang-orang Yahudi! Sesungguhnya kalian adalah ahlul kitab yang
pertama sebelum Muhammad, dan kalian mengetahui bahwa kami sejak dulu
bertentangan dengan Muhammad! Apakah agama kami lebih baik dari agamanya?”
mereka menjawab:”Agama kalian lebih baik dari agaman ya, dan kalian lebih utama
dan lebih berhak darinya”.Untuk menghadapi perang Ahzab atau perang
Khandaq ini maka dilaksanakanlah strategi perang Salman al-Farisi untuk membuat
pola strategi perang defensif tetapi mematikan. Kedahsyatan strategi itu telah
membuat decak kagum kaum muslimin dan kekalahan musuh yang menyerang Madinah.
Atas inisiatifnya dibuatlah instruksi Rasulullah untuk membuat galian parit
untuk pertahanan kota madinah.Gambaran jihad dan cinta sahabat kepada
Rasulullah begitu tampak dalam persiapan pertahanan kota dari gempuran mush.
Nabi Muhammad Saw keluar pada waktu perang khandaq, saat itu kaum muhajirin dan
Anshor sedang menggali parit di siang hari yang sangat panas, tidak ada budak
yang menolong mereka, ketika Rasulullah melihat mereka keletihan dan kelaparan,
Rasulullah bersabda:”Ya Allah jadikanlah kehidupan ini sebagai kehidupan
Akherat maka ampunilah kaum Anshor dan Muhajirin”. Tanpa kenal lelah kaum
muslimin terus bekerja dan bila mereka hendak keluar untuk urusan pribadinya
mereka minta izin Rasululla, dan kembali ke tempatnya semula setelah
menyelesaikannya, mereka tersu menggali parit itu, meskipun para sahabat
melarangnya. Dengan teriakan Allahu Akbar Rasulullah kembali mengobarkan
semangat kaum muslimin. Maka turunlah Firman Allah:“Sesungguhnya yang sebenar-benarnya orang
mukmin ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasulnya, dan Apabila
mereka berada bersama rasulullah dalam sesuatu urusan yang memerlukan
pertemuan, mereka tidak meninggalkan (rasulullah) sebelum meminta izin
kepadanya. Sesungguhnya orang-orang yang meminta izin kepadamu (muhammad) mereka
itulah orang-orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, maka apabila mereka
meminta izin kepadamu karena sesuatu keperluan, berilah izin kepada siapa yang
kamu kehendaki di antara mereka dan mohonkanlah ampunan untuk mereka kepada
Allah. Sesungguhnya Allah maha kuasa pengampun lagi maha Penyayang”(QS. An-Nur
24:62)Pada bulan syawal berdatanganlah pasukan
sekutu untuk menyerang madina. Pasukan Quraisy dipimpin oleh Abu Sufyan bin
Harb dan pasukan Bani Fazarah dipimpin oleh Uyaynah bin Hisn bin Hudzaifah bin
Badr, Harits bin Auf bin Abi Haritsah al-Mirrie di barisan Bani Murrah, Masud
bin Rukhaylah bin Nuwayro bin Thorif dari Bani Asyja.Dalam perang itu kaum muslimin dikepung
oleh pasukan sekutu. Harap-harap cemas terbersit dihati mereka, tetapi
Rasulullah menguatkan hati mereka bahwa Allah akan menurunkan pertolongannya.
Beberapa orang diutus ke front musuh untuk menyelesaikan persoalan: Saad bin
Muadz, tokoh suku Aus, Saad bin Ubadah bin Dulaim, Abdullah bin Rowahah dan
khowwat bin Jubair bersama salah seorang tokoh dari suku Khazraj. Namun tidak
pernah ada kata sepakat ataupun perdamaian.Selama dua puluh hari kaum muslimin
dikepung. Ali bin Abi Thalib menampilkan keberanian yang gilang gemilang dalam
perang ini, dan membuat para musuh hanya melakukan penyerangan dengan cara
melempar batu, panah dan mengepung kaum muslimin selama itu tanpa ada yang
berani menantang Ali.Pada perang itu juga, seorang ksatria
musuh yang sangat terkenal, Abdullah bin Abdi Wud tewas di ujung pedang Ali bin
Abi Thalib dan mayatnya jatuh ke dalam parit. Kekalahan terus dialami Quraisy
makkah, wajah mereka pun tertekuk menanggung malu atas kekalahan itu. Demi
melihat kesatria yang dihormatinya mati di parit itu, malu hati kiranya bila
Quraisy yang dikenal perniagaannya tidak mampu menebus mengembalikan
pahlawannya ke kampung halaman. Kaum Musyrikin memberikan uang sebesar sepuluh
ribu dinar kepada rasulullah untuk menebus mayat pahlawan mereka. Rasul
menjawab :”Aku tidak menjual mayat. Ambillah mayat kawanmu itu”.Di lain saat, seorang tawanan tidak
berdaya setelah kekalahannya. Rasulullah melarang pembunuhan terhadap seorang
tawanan yang tertangkap dalam keadaan tangannya masih terikat. Dampak dari
perintah ini demikian besar hingga Abu Ayyub al Anshori, yang meriwayatkan
hadis ini berkata:”Aku bersumpah demiAllah yang menguasai hidupku, bahwa aku
tidak akan menyembelih, sekalipun seekor ayam, yang sudah ku ikat dengan tali”. About these ads
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar